Aku Bukan Anak Broken Home

Aku Bukan Anak Broken Home

Aku Bukan Anak Broken Home

Aku Bukan Anak Broken Home

Dikirim oleh  : Binawati Dwi  M.

Instagram     :@binawati_20

       Putri adalah sebutan namaku, lebih lengkapnya Adinda Putri Cahya. Tapi keluarga dan teman-temanku mayoritas  memanggilku Putri, tapi tidak jarang juga ada yang memanggilku dengan nama Adinda. Aku tidak mempermasalahkan mereka memanggilku apa, apapun juga boleh. (Baca juga : Pena Penyemangat Hadiah Dari Ayah)

       Hari ini hari Sabtu jadi setelah aku sholad subuh aku tidur lagi karena kuliahku libur. Sekitar jam 8 pagi aku baru terbangun. Hari ini aku memutuskan untuk tidak pergi dengan teman-teman apalagi keluarga. Alasan kenapa aku tidak keluar dengan teman-temanku karena aku ingin beristirahat saja dirumah. Dan jika alasanku mengapa tidak pergi dengan keluarga, (sibuk) kata tersebut adalah alasanku. Aku anak tunggal, papa mama sibuk dengan pekerjaannya sebab itu aku jarang pergi dengan keluarga hampir tidak pernah selama aku menjadi mahasiswa. Jujur, aku lebih nyaman jika mereka tidak ada dirumah karena jika papa mama dirumah selalu bertengkar, bertengkar, dan bertengkar.

      Jam dinding rumah sudah menunjukkan pukul 20.00, papa dan mama pulang secara bersamaan tapi mengendarai mobil sendiri-sendiri. Dan saat itu posisiku dikamar lantai atas sambil membaca novel, aku sengaja tidak turun meskipun aku tahu jika mereka sudah pulang. Ekspetasiku papa mama akan naik ke lantai atas menjemputku untuk makan malam bersama atau menanyakan bagaimana hidupku hari ini. Tapi, ekspetasiku salah besar mereka tidak menjemputku. Aku sabar menunggu sampai pukul 22.00 papa mama tidak menghampiriku. Karena perut sudah keroncongan dari tadi aku memutuskan turun ke lantai bawah lalu  menuju ruang makan untuk makan malam.

“Bi, papa mama tadi tanya dimana aku?” Tanyaku pada asisten rumah.

“Maaf Non, tapi Tuan dan Nyonya tidak tanya mereka langsung masuk ke kamar”

Mendengar jawaban Bibi membuatku ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin. Apakah mereka lupa jika papa mama memiliki anak? Perasaanku hancur samapi tak terasa air mata menetes. (Baca juga artikel lain pada : Pengertian dan Contoh Majas Eufimisme)

            “Non, ada apa mengapa menangis?”

            “Tidak Bi, tidak papa. Aku ke kamar dulu ya.” Pamitku kepada Bibi.

Aku langsung lari masuk ke dalam kamar mengurungkan niat untuk makan malam, aku menangis hingga tertidur.

Tringg… Tring… Tring…

       Alarm ku sudah berbunyi menandakan pukul 03.00. Aku bangun dan segera mengambil air wudhu untuk sholad malam. Aku berdoa dan mencurahkan segala perasaanku kepada Tuhan. Aku sangat berharap jika aku memiliki keluarga yang harmonis. Setelah sholad dan berdoa kulanjut dengan membaca Al-quran lalu sholad shubuh.

       Aku menaruh mukenah yang sudah kulipat tadi di atas meja. Tapi terdengar sangat jelas ditelingga ku saat papa mama bertengkar. Aku tidak tahu sesuatu apa yang mereka perdebatkan hingga awal hari ini diawali dengan amarah. Tanpa pikir panjang aku langsung turun untuk menemui papa mama dan sudah kulihat dari anak tangga bahwa banyak sekali pecahan beling yang ada di lantai.

“Haruskah mengawali hari dengan amarah?” Tanyaku dengan nada yang sedikit naik

“Kamu ngak tau apa-apa jadi diam!” Bentak mama saat itu juga

        “Aku capek melihat papa mama bertengkar, aku ingin punya keluarga yang harmonis seperti keluarga teman-temanku”

         “Aku cuma ingin kasih sayang papa mama bukan harta, aku ga minta uang yang banyak tapi aku minta kasih sayang papa mama” Lanjutku sambil terisak

           Setelah mendengarkan amarahku mama langsung mengambil tas dan pergi dari rumah. Papa duduk di sofa dengan tatapan kosong. Aku menyuruh bibi untuk membersihkanpechan beling supaya tidak mengenai kaki, lalu aku pergi ke dapur. Membuatkan papa secangkir kopi. (Baca juga artikel lain pada : Letter from a Child to God)

“Pa, diminum dulu kopinya” Pinta ku kepada papa

“Eh iya sayang terimakasih”

“Pa aku boleh duduk disini?”

“Silahkan sayang”

      Setelah papa mempersilahkanku untuk duduk, aku langsung duduk disampingnya. Lalu aku dipeluk papa dan dicium keningku. Tetesan air mata yang sedari tadi kubendung akhirnya turun juga, aku menangis dalam pelukan papa aku merindukan ini, aku mengingkan ini, aku ingin bukan hanya papa yang memelukku tapi juga ada mama. Perlahan air mataku yang jatuh dihapus oleh papa dan aku semakin terisak.

“Kamu mengingkan ini sejak lama ya sayang?” Tanya papa yang membuatku semakin terisak

“I-y-a pa” jawabku terbata-bata

“Aku ingin papa mama tidak bertengkar lagi, aku ingin papa mama tidak pernah bermusuhan aku ingin keluarga kita harmonis pa, aku cuma ingin itu”

“Maafkan papa yang tidak pernah memberikan kebahagian ke kamu sayang, papa juga tidak mengingkan ini terjadi diantara papa mama. Tapi kita terkalhakan dengan sifat ego kita. Maafkan papa, papa sangat sayang denganmu papa rindu memelukmu nak”

      Aku semakin terisak setelah mendengar penjelasan papa, hingga aku tertidur di sofa dan aku mulai demam. Kebiasaanku dari kecil saat aku meanangis dan terlalu memikirkan sesuatu aku langsung demam. Tapi demamku kali ini sangat tinggi hal itu yang membuat papa menghawatirkanku.

“Put, Putri bangun sayang” Papa membangunkanku

“Ayo kita ke Rumah Sakit kamu demam nak” Suruh papa kepadaku

     Aku dan papa langsung pergi ke Rumah Sakit, sesampainya di Rumah Sakit aku langsung dilarikan ke UGD aku diperiksa oleh 1 Dokter dan 2 perawat. Terpaksa aku harus rawat inap karena kata Dokter demamku sanagat tinggi, setelah mendapatkan perawatan di UGD selama kurang lebih 1 jam aku dipindah ke ruangan inap. Tampak jelas diwajah papa kalau papa sangat menghawatirkanku, setelah aku sampai di ruangan inap papa langsung menelfon mama dan mengatakan bahwa aku opname di Rumah Sakit Bhayangkara.

“Putri, kamu istirahat saja ya biar cepat sembuh” Suruh papa

“Iya pa, tapi Putri ngak ngantuk nanti kalau ngantuk Putri akan tidur dengan sendirinya kok”

PUTRI…..PUTRI….. PUTRI…..

       Teriakan suara mama memanggil namaku sangat keras, saat mama masuk kedalam ruanganku, mama langsung memelukku sambil meneteskan air mata, dan aku pun juga menangis karena aku sudah lama meminta hal ini kepada Tuhan. Mama papa akhirnya saling meminta maaf atas sifat egoisnya dan mereka telah berkomitmen mulai detik ini mereka akan membiarkan sifat egois menguasai diri mereka masing-masing.

Akhir cerita dari Aku Bukan Anak Broken Home

       Itulah postingan cerita pendek yang berjudul Aku Bukan Anak Broken Home yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Dengan harapan semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerpen tentang Aku Bukan Anak Broken Home diatas. (Baca juga artikel lain pada : Soal Pilihan Ganda tentang Bunyi)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

2 thoughts to “Aku Bukan Anak Broken Home”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *