Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku

Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku

Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku

Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku

Dikirim oleh     :Binawati Dwi Martiningtyas

InstaGram       :@binawati_20

Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku

            Namaku Anggel, aku anak kedua dalam keluarga kecilku, aku mempunyai kakak perempuan yang bernama Feby. Ayahku bekerja di salah satu perusahan di Yogyakarta sedangkan ibuku tidak bekerja beliau sebagai ibu rumah tangga. Sekarang aku duduk dikelas 11 SMA, sedangkan kakakku sudah memasuki semester 6 di salah satu universitas negeri Yogyakarta. Kami memang mempunyai beda usia yang cukup jauh. Sifatku dan kakak jauh beda, kakak jika mempunyai masalah langsung melampiaskan amarahnya kepada siapun, sedang aku cukup diam, jarang sekali bercerita dengan ayah apalagi kepada ibu. (Baca juga : Kenangan Indah Si Gadis Desa )

            Waktu aku masih kecil, aku anak yang bandel banget, sering marah jika keinginanku tidak dipenuhi, hampir setiap hari menangis, susah makan, dan lain sebagainya. Saat aku sudah mulai mengetahui isi dunia aku hanya tertawa kecil saat mengingat masa kecilku, aku berpikir bahwa itu hal yang wajar jika dilakukan oleh anak kecil. Dari kecil memang aku lebih dekat dengan ayah daripada dengan ibu, entah alasan apa aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Ayah.

            Aku berpikir saat aku kecil aku jadi anak yang nakal itu wajar, namun pikiranku beda dengan pikiran ibu. Disekolah aku banyak mengikuti organisasi yang membuatku untuk pulang kerumah lebih sore dari pada siswa lain. Saat aku sampai dirumah tak jarang aku sudah merasakan kecapekan, hal itu yang membuatku sering melakukan kesalahan saat aku berada di rumah. Jujur, sifat ibu sangat berbeda dengan yang dulu  hampir tiap hari aku mendapat bentakan dari ibu, berbeda dengan kakakku. Ia jarang dibentak ibu, mungkin hampir tidak pernah. Aku merasa iri dengan kakak, pernah saat itu aku melakukan kesalahan yang sangat kecil saat itu aku tidak sengaja memecahkan satu piring ibu dan kakakku langsung memarahiku sampai ibu tak mau melihatku. Dan keesokan harinya kakak melakukan kesalahan yang sangat fatal, ibu hanya menasehatinya dengan nada lemah lembut. (Baca juga artikel lain pada : Pengajian Umum KH Anwar Zahid Dalam Rangka Isra Miraj )

            Hatiku hancur, aku menangis didalam kamar, dulu pernah saat aku masih kecil melihat ibu dan kakak bergurau bersama sedangkan aku hanya terdiam dan keesokan harinya saat aku hendak pergi sekolah aku bertanya kepada ibu.

“Bu, Anggel anak kandung ibu bukan?” Mulut kecilku berbicara dengan nada polosnya

“Iya Anggel anak kandung ibu.” Mendengar jawaban ibu hatiku merasa sangat lega. Kejadian itu yang selalu aku ingat untuk menenangkan pikiranku saat aku menangis.

            Keesokan harinya saat aku sekolah ada salah satu sahabatku menangis hingga tidak berhenti-henti. Aku dan 5 sabahatku yang lainnya berusaha menenangkannya, saatku tanya kenapa dia menangis dia menjawab bahwa tadi pagi dia dimarahin dengan ibunya karena tidak membantu ibunya dan saat ia berpamit untuk pergi kesekolah ibunya hanya terdiam. Dalam hatiku bicara aku denganmu mempunyai nasib yang sama, aku dan sahabatku yang lainnya menenangkannya dan sedikit-sedikit memberi solusi. Kadang aku heran dengan diriku sendiri, temanku bisa bercerita tentang amarah ibunya tapi kenapa aku tidak pernah bisa bercerita ke orang lain tentang kehidupanku yang sebenarnya. “Kehidupan Anggel enak ya, tidak pernah dimarahin dengan ayah atau ibunya” Kata temanku, dan aku hanya membalas dengan senyuman dan berkata “Alhamdulillah.” Mereka tidak tau apa kehidupanku yang sebenarnya mereka hanya tau bahwa aku bahagia dirumah, keluargaku baik-baik saja, dan aku tidak pernah mendapatkan amarah.

            Aku punya teman yang berbeda sekolahnya denganku tapi segala hal kuceritakan kepadanya. Aku sangat nyaman berteman dengannya dari pada dengan temanku yang lainnya. Saat hari Minggu kemarin kita memutuskan untuk jalan-jalan karena jenuh dengan pelajaran yang semakin lama semakin mengajak otak kita untuk berpikir dengan keras ia bernama Putri, saat kami jalan-jalan Putri menceritakan suasana keluarganya dengan sangat jelas. Putri anak broken home papa dan mamanya sering bertengkar dirumah, sedikit-sedikit Putri aku kasih saran. Saat Putri selesai bercerita aku ingin bercerita juga tentang kehidupan keluargaku yang sebenarnya, aku ingin mengatakan kepada Putri bahwa ibu dan kakakku sering memarahiku sering memakiku dan lain sebagainya. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa bercerita kepada Putri, saat aku hendak mengatakan keburukan ibu dan kakak aku langsung mengingat kebaikan mereka hingga aku memutuskan untuk tidak bercerita. (Baca juga artikel lain pada : Philosophy of Carrot Egg or Coffee )

            Keesokan harinya adalah hari Senin, aku berangkat pagi karena ada upacara bendera di sekolah. Selama berada di sekolah aku tertawa ceria seakan akan aku tidak pernah berada di lingkup kesedihan hingga jam pelajaran berakhir aku tetap bergurau dengan teman-temanku. Tapi saat aku pulang dari sekolah aku merasa sedih yang sangat mendalam, mungkin ini bukti perkataan orang-orang bahwa jika kita bahagia yang terlalu berlebih karena pada dasarya berlebihan itu tidak baik. Saat aku sampai dirumah aku mendengar kabar bahwa ayah akan  ditugaskan di luar kota tepatnya di Kota Surabaya. “Bagaimana kehidupanku dirumah saat ayah jauh denganku?” Tanyaku dalam hati.

            Hampir sudah 1 bulan ayah di Surabaya, sejak 1 bulan yang lalu aku sering menghabiskan waktu disekolah dengan teman-temanku kadang jam 5 sore baru aku pulang ke rumah sampai dirumah langsung membersihkan rumah setelah itu aku belajar. Sedikit waktu yang kugunakan untuk berkumpul dengan ibu dan kakak. Aku merasa kesepian di rumah saat tidak ada ayah. Jika ada pilihan pulang atau tetap disekolah sebenarnya aku memilih tetap disekolah karena aku lebih merasakan kenyamanan dan kebahagian dengan tingkat yang sangat tinggi, tapi sejauh kakiku melangkah akhir langkah kakiku pasti akan ke rumah.

       Satu minggu kemudian aku jatuh sakit, aku terkena penyakit Demam berdarah yang cukup parah hingga mengharuskanku untuk menginap beberapa hari di Rumah Sakit, ibu langsung mengabari ayah jika aku sakit. Keesokan harnya ayah pulang dan menemaniku di Rumah Sakit, entah aku mendapat keberanian dari mana saat keluarga kecilku berkumpul aku mengutarakan perasaanku yang sebenarnya. Aku mengatakan kepada mereka jika aku iri dengan kakak, dengan nada terpatah-patah karena tubuhku sangat lemas. Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku dan kakakku. Ibu dan kakak menangis dan meminta maaf kepadaku. Tak perlu berpikir panjang aku langsung memeluk mereka karena aku sadar bahwa Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku dan kakakku hanya perasaanku saja. Mereka sebenarnya sangat baik. Dua hari kemudian aku boleh pulang kerumah dan keluargaku baik-baik saja, jika aku melakukan kesalahan ibu dan ayah menasehatiku dengan baik-baik tidak ada rasa iri yang kembali muncul antara aku dan kakak. Kini tidak ada perasaan Aku Dibenci oleh Ibu Kandungku dan kakakku. (Baca juga artikel lain pada : Soal PAS Prakarya dan KWU Kelas 11 Semester 1 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *