I Leave My Heart In Lebanon Seri 4

I Leave My Heart In Lebanon Seri 4

I Leave My Heart In Lebanon Seri 4

I Leave My Heart In Lebanon Seri 4

Dikirim oleh : Narendra Dini

Instagram : @narendradinni

      Siang hari, Kapten Guntur dan seluruh pasukan kembali ke markas. Kapten Guntur sempat heran terkadang bingung. Musuh negara Lebanon tak kunjung menyerang. Musuh negara Lebanon hanya mengirim ancaman saja. Kapten Guntur mencoba berpikir jernih tentang hal ini dan ia harus bisa mempersiap kan penyerangan secara matang karena musuh negara Lebanon bisa menyerang kapan saja. (Baca juga : I Leave My Heart In Lebanon Seri 3)

      “Terima kasih kepada semua. Langsung saja, saya sendiri sempat bingung, musuh negara ini tak kunjung menyerang. Itu memang baik kalau mereka tak menyerang dan negara ini bisa tentram. Tapi, untuk apa ancaman bom kemarin malam ??” kata Kapten Guntur tegas.

      “Tapi Kapten, kita harus selalu siap siaga bila ada serangan mendadak. Bisa saja serangan itu akan terjadi malam nanti. Kita harus membicarakan ini Kapten” sahut pimpinan pasukan, Bima Natanegara.

      “Kau benar Bima. Semua pasukan !!! Kita meeting kecil hari ini”

      Kapten Guntur dan semua pasukan melakukan diskusi atau meeting kecil. Kapten dan pasukan nya menyusun rencana untuk persiapan malam nanti. Kapten dan para pasukan harus selalu siap siaga bila ada serangan mendadak.

Pukul 4 waktu Lebanon…

      Kapten kembali berkunjung ke desa. Beliau mengunjungi rumah sesepuh desa tersebut yang sekaligus rumah kepala desa. Kapten masuk kerumah itu dengan sopan dan mengucapkan salam. Kapten berbincang – bincang dengan sesepuh desa dan terakhir, Kapten di temani oleh Asma, anak sang sesepuh. (Baca juga artikel lain pada : Belajar Memahami Arti Kehidupan)

      “Maaf Kapten, saya ada keperluan. Akan saya panggil kan Asma untuk menemani anda”

      Sang sesepuh masuk kedalam rumah dan berganti dengan keluar nya Asma dengan membawa sebuah nampan berisi satu gelas teh hangat. Asma duduk di seberang meja dan masih menjaga jarak dengan sang Kapten.

      Kapten meneguk teh dari Asma dan mulai berbincang –bincang.

      “Oh ya Asma, saya mau menanyakan sesuatu. Mengapa saya tak pernah melihat suami mu, kepala desa ini ??” Kapten bertanya ramah.

      “Dia tewas saat musuh negara ini datang dan menyerang desa ini tiba – tiba” Asma menjawab lemah.

      “Oh, maafkan saya. Saya tak tahu itu. Lalu apa kau memiliki anak ??” tanya Kapten lagi.

      “Iya, saya memiliki anak. Nama nya Salma Asmara. Tapi, dia tidak berani bicara kepada siapa pun termasuk saya. Salma begitu saying dengan ayah nya. Hanya kepada orang yang sangat ia sayang lah ia mau bicara. Saya kira, semua rasa sayang nya hanya ada pada diri ayah nya. Dengan saya, ia tak mau berkata apapun semenjak kematian ayah nya. Begitu dengan ayah saya. Ia tak mau berbicara dan menyebut kata” Asma menjelas kan panjang

     “Turut berduka cita atas kematian suami mu. Lalu bagaimana kah kronologis kejadian itu dan dengan Salma, apa kau pernah membawa nya ke dokter ??” Kapten mencoba mencari informasi.

      “Kejadian nya 5 bulan lalu. Kala itu, Salma dan ayah nya berada di pasar. Salma mengingin kan boneka yang sama dengan yang bawa tapi ukuran boneka itu lebih besar. Ayah nya hendak membawa nya pulang karena ayah nya saat itu lupa membawa uang lebih. Saat ayah nya menggandeng Salma dan di biarkan Salma di samping nya. Saat ayah nya menunduk untuk mengambil barang, Salma dengan cepat kembali ke toko yang menjual boneka itu”. (Baca juga artikel lain pada : DUNIA ISLAM MENJADI SASARAN PEMUSNAHAN)

      “Saat itu juga, sebuah bom meledak di dekat mobil ayah Salma. Salma yang mendengar suara ledakan bom dengan jelas, Salma langsung menengok ke arah mobil nya. Salma berteriak histeris saat melihat ayah nya sudah berlinang darah pada bagian kepala. Salma ingin menghampiri ayah nya itu tapi ia di tahan oleh seorang warga sini agar ia tak mendekat”

      “Hanya beberapa menit, serangan itu sudah tidak ada, alias musuh sudah kembali. Disitu, Salma menghampiri jasad ayah nya dan menangis di dekat ayah nya. Salma membuang boneka yang ia bawa dan ia memilih tidur di dekat ayah nya sampai seluruh korban ledakan bom itu berhasil di evakuasi”

      “Ketika Salma membuka mata nya, ia langsung teringat akan ayah nya kemarin. Salma kembali menangis dan berlari hendak keluar karena di saat itu, ayah Salma akan melaksakan pemakaman. Saya menahan Salma dengan memeluk nya dan menenang kan nya. Hanya satu kata terakhir yang ia ucap yaitu ‘Baba’.”

Ikutilah kelanjutan cerita I Leave My Heart In Lebanon Seri 4 pada SERI 5

BERSAMBUNG

      Itulah postingan cerbung tentang I Leave My Heart In Lebanon Seri 4 yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat terhibur dari cerbung tentang I Leave My Heart In Lebanon Seri 4 diatas. (Baca juga cerpen lain dalam versi Bahasa Inggris pada : Soal PAT Matematika Kelas 7 Bagian 1)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *