Kenangan Indah Si Gadis Desa

Kenangan Indah Si Gadis Desa

Kenangan Indah Si Gadis Desa

Kenangan Indah Si Gadis Desa

Dikirim oleh : Dwi Ayu Permatasari

Instagram : @dwiayu_23

       Semerbak keharuman pada gadis yang tengah duduk terhadap dengan jendela yang membuka. Angin – angin beterbangan dengan membawa kupu-kupu penuh warna. Dedaunan laksana bertasbih akan indahnya nikmat yang telah Allah beri pada bumi. Gadis itu tak hentinya mengucap ribuan syukur pada Rabb yang telah memberi beribu kenikmatan, lewat tantangan yang begitu rumit dirasa. Tiba- tiba kenangan itu kembali terngiang-ngiang dalam benaknya, tentang masa lalu yang telah melukiskan cerita dibalik kisah nya. (Baca juga : Bunga Mawar yang tak Tersampaikan)

       Sepuluh tahun yang lalu, kisah itu di taqdir kan ada pada dirinya. Gadis itu bernama Fatimah. Taqdir yang tak pernah ia inginkan sebelumnya. Ketika keluarga harus berpisah. Fatimah cukup dewasa, hingga tau apa yang sedang terjadi.  Namun wajar saja jika pikirannya masih kekanakan karena usia nya juga masih kecil. Suatu kisah sangat lah panjang, yang mana begitu banyak luka yang tersembunyi dari ceria nya si kecil, banyak kegelisahan yang tersembunyi dari kebahagiaannya berlari bersama teman sebaya nya.

       Ketika menjelang lebaran tiba, ketika semua anak se usianya digendong dan digandeng dengan kedua orang tua nya untuk meruakkan gema takbir. Namun ia hanya berjalan sendiri dengan membawa obor sambil berlari-lari mencoba menghilangkan kegelisahannya. Ketika hari bahagia ibu nya tiba, ia sangat bahagia, karena melihat ibu nya bahagia. Namun nyatanya, masih ada luka saja yang tak pernah sirna dalam fikirannya. Bagaimana kegelisahan selalu ia rasakan detik itu. Ia memiliki saudara  dari ibu dan ayah tirinya. Sejak saat itu, gadis itu tidak tau harus bagaimana, kejadian- kejadian silih berganti menimpa dirinya. Ia seperti kehilangan sosok tangguh ayah disitu, sosok yang seharusnya mendampingi langkah dirinya. Namun begitulah taqdir. Tidak mungkin Allah memberi kesedihan melainkan pasti ada hari dimana ia akan bahagia.

       Waktu yang terus berputar, hingga Fatimah bertumbuh dewasa, ia berumur sebelas tahun. Banyak kemauan yang ingin ia wujudkan. Ia tidak ingin sekolah Negeri, ia tidak ingin sekolah faforit, ia tidak ingin sekolah ternama. Ia hanya ingin menjadi santri di pondok pesantren dengan hanya memaksimalkan Alquran dan hadist nya. Namun lagi-lagi ada perdebatan. Sehingga ia  memutuskan untuk menuruti ayah nya. Karena ia tahu bahwa ayah nya lah yang akan membiayainya. Dan pikiran dewasa nya yang telah membuatnya harus mengikuti orang tua nya. “Ridho Allah tergantung dengan ridho orang tua”. (Baca juga artikel lain pada : Pengertian dan Jenis-Jenis Transmigrasi)

       Kesedihan itu, kegelisahan dulu, masih ia rasakan sejak saat itu. Dimana ketika ia berangkat menimba ilmu di pondok pesantren ia hanya diantar oleh seorang ayah. “Fatimah ada mbak-mbak disana, ayo masuk nak, ayah pamit, Assalamualaikum”. Sebelum balasan itu terucap dari bibirnya, ayahnya sudah tak nampak didepan matanya. Ia masuk dengan membawa tas besar di pondok. “ini Fatimah, kamar sampean, itu ada lemari kosong, sampean pakek, nggeh”(mbak-mbak pondok). Fatimah hanya menganggukkan kepala. Setelah itu Fatimah lekas menata pakaian-pakaiannya dilemari. Kembali ia melihat banyak santri-santri baru yang ditatakan ibu nya, pakaiannya di tatakan ibunya, barang-baranangnya di tata kan ibunya, bahkan ketika santri baru itu menangis tidak mau ditinggal pergi, ibu nya ada untuk menghapus air matanya dan mencium keningnya. Ada hati yang terluka di situ. Ia seperti teriris-iris. ingin rasa nya ia berlari dengan melepas lara, namun nyatanya tak kan bisa. Ia kehilangan sosok ibu disitu. Dalam benak Fatimah “ dimana ibuku, dimana,,, mana seseorang yang  menata lemariku,mana seseorang yang menghapus air mataku, mengapa aku sendiri, dimana ibu ku”. Beribu kegelisahan terus bersamanya. Namun, ia masih saja mencoba tersenyum. Dengan semangatnya “MAN JADDA WAJADA”.  karena ia tahu, ia sendirilah yang menginginkan mondok meskipun harus dengan sekolah sendiri di negeri.

       Arus berjalan sangat lah cepat. Daun yang jatuh pun cepat terganti oleh daun yang baru. banyak cerita dibalik kisah nya. Meski tak nampak wajah lesuhnya. Ia tetap saja berwajah pemikir. Tak  mudah baginya untuk beda dari teman- temannya. Ketika ia menghafalkan juz 30 dan surat” pilihan dengan diadakan wisuda yang dihadiri kedua orang tua. Lagi – lagi ia berada pada kegelisahan. Karena tak memungkinkan ia untuk mengundang kedua duanya.ia hanya mengundang ayah nya untuk pergi di acara wisudanya. Banyak santri- santri putri yang berfoto bersama kedua orang tua nya dengan senyum ria. Namun Fatimah hanya berfoto bersama sang ayah dengan senyum luka. Semangat nya dalam menghafal adalah mereka, untuk kedua orang tua nya agar tersenyum melihatnya. Namun nyatanya Allah lagi” memberi sebuah taqdir indah dengan kebahagiaan yang tersembunyi ini, yang mana pasti ia raih, jika tidak saat ini, mungkin kelak pada jannah nya. (Baca juga artikel lain pada : Dunia Terbalik 2020 Tahun Corona)

       Taqdir terus berjalan hingga ia menjadi pribadi yang sangat dewasa di umurnya yang terbalut 16 tahun. Ia tau ia pernah kehilangan sosok ayah pada masa kecilnya, dan ia pernah kehilangan sosok ibu di masa remaja nya saat pertama menjadi santri. Namun itu tidak memudarkan untuk ia berbakti pada keduanya. Ia tahu taqdir itu lah yang kini membawanya pada sosok remaja yang dewasa dan mandiri. Dibenaknya, “jika taqdir nya tidak seperti ini, mungkin ia masih kekanak-kanakan, mungkin ia masih menjadi gadis yang manja, yang meminta-minta kepada orang tuanya tanpa ada usaha, mungkin ia tak menjadi pribadi yang sekuat ini, karena ia tahu Allah menyelipkan beribu makna pada segala ujian dan rintangan, pada setiap lelah nya selalu ada masa kejayaanya, selalu ada bahagia disetiap sedih nya, Fatimah tahu”

       Dengan kesabaran masalah akan teratasi, meski dilawati dengan banyak air mata yang tak terbendung. ikhlas akan membawanya ke masa yang lebih baik dari mimpinya. Dan selalu husnudon dalam segala tindakan, berprasangka baik dengan Allah juga dengan makhluk Allah, karena Allah adalah sebaik – baik nya penulis scenario makhluknya. Selalu ada kesedihan yang tak terungkap pada diri seseorang. Selalu ada lelah dalam penantian di kejayaan pada masa depan. Tak perlu risau ketika seseorang yang diinginkan tidak ada untuk kita. Tak perlu risau ketika hal yang diinginkan tidak kita raih. Karena yang terbaik untuk kita belum tentu baik bagiNya. Tenanglah ada Allah yg selalu ada pada hambanya. Tidakkah Allah memberi ujian pada kemampuan hambanya?, tidak kah Allah telah berfirman” di kesulitan pasti ada kemudahan?”. (Baca juga artikel lain pada : Latihan USBN Seni Budaya SMA Bagian 3)

Kenangan Indah Si Gadis Desa

Latahzan innallah hamaaana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *