Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain

Ketika Takdir Berkata Lain

Dikirim oleh : Indana Alfi N

e-mail : [email protected] 

Ketika Takdir Berkata Lain

      Farida adalah saudara sepupuku. Dia adalah anak dari Bapak Subkhan dan Ibu Muroh. Rumahnya berada di Krian. Farida duduk di bangku kelas 6 Sd ketika saya duduk di bangku kelas 5 SD. Dia anak yang baik dan ceria. Saya sering berkunjung ke rumahnya sehingga tidak heran jika saya sering bermain dengannya. (Baca juga : Selamat Tinggal Nenek Tercinta)

      Suatu hari keluargaku mendapat kabar dari salah satu keluarganya Farida jika Farida sedang dirawat di rumah sakit Daerah Sidoarjo selama 1 minggu. Farida memang seringkali sakit dan wajahnya terlihat pucat. Tak heran jika ia sering bolak-balik masuk rumah sakit. Tetapi Farida selalu bilang tidak apa-apa,karena memang dia sendiri tidak tahu penyakit yang ada di dalam tubuhnya.

      Saya, ibu, dan ayah saya langsung menjenguknya di RSUD SIDOARJO. Akhirnya saya bisa melihat lagi senyumannya yang sudah lama hilang dari pandangan mata saya. Tubuh Farida terlihat lebih kurus dan wajahnya terlihat pucat. Saya langsung bersalaman dengan Farida, tetapi tangan Farida terasa dingin. Farida bercerita jika baru saja ada tetangganya yang meninggal. Dia merasa takut sehingga dia sempat pingsan.

      Tapi Farida menujukkan senyumnya padaku dan berkata “Alhamdulillah bukan aku yang meninggal, In”. Saat saya sedang berbincang-bincang dengan Farida tiba-tiba ada dokter masuk  dan berkata jika Farida sudah boleh pulang. Kabar ini membuat Farida sangat bahagia dan dia berencana untuk masuk sekolah setelah pulang dari rumah sakit.

      Pertemuan itu membuat saya cukup bahagia. Saya lega,karena saya sendiri bisa memastikan kalau kondisi sepupu saya sudah sehat dan membaik. Sebelum saya pulang saya menasehatinya “jaga kesehatanmu ya Far, jangan banyak makan makanan ringan”. “Iya In,makasih nasehatnya”.

      Rabu, 15 November 2013 sekitar pukul 15.00 WIB ayahku mendapat telfon dari ayahnya Farida. Ayahnya Farida berkata  bahwa Farida telah meninggal dunia. Sontak ayah saya langsung terkejut dan menceritakannya kepada saya dan ibu saya. Saya sempat tidak percaya kalau Farida sudah meninggal, karena kemarin kondisi Farida kata dokter sudah membaik. Saya sangat terpukul dan sedih mendengar berita tersebut. Seketika itu saya langsung menangis.

      15 menit kemudian saya dan keluarga saya langsung menuju rumahnya. Saya melihat rumahnya sudah ramai dan dipenuhi orang-orang yang bertakziah. Saya dan keluarga saya masuk, orang yang pertama kali saya lihat adalah Ibunya Farida. Ibunya Farida menangis tetapi ibu dan ayahku segera menenangkannya.

      Saya langsung menuju ke jenazah Farida yang telah dimandikan. Air mata saya pecah ketika melihat tubuh Farida sudah tak bernyawa dan terbujur kaku. Saya melihat ada seulas senyum  yang samar dari wajahnya, seperti senyum bahagia, senyum syukur. Mungkin saat itu ia merasa lega kalau dia sudah terbebas dari penyakit yang ia derita selama ini. 

      Saya hanya bisa memandang wajahnya dari dekat dan bisa sebentar memegang tangannya.  Proses pemakaman pun dimulai, ia  segera disholatkan dan dikuburkan. Sekarang hanya bisa merasakan  kenangan bersama. (Baca juga cerita lain pada : Dunia Maya Menipu Cinta)

      Seminggu setelah kematian Farida,saya dan keluarga saya baru tahu kalau selama ini Farida terkena LEUKIMIA. Seringkali saya bersyukur,karena saat ini Farida sudah terbebas dari rasa sakit tersebut. Tak terbayangkan bagaimana kondisi dia kalau dia masih hidup,mungkin dia akan jauh lebih menderita. Saya hanya bisa mendoakan semoga Allah SWT memberikan tempat terindah untuknya dan menghapus semua dosa-dosanya.

       Itulah postingan cerpen yang berjudul Ketika Takdir Berkata Lain yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerpen tentang Ketika Takdir Berkata Lain diatas. (Baca juga cerita lain dalam versi Bahasa Inggris pada : Wife Lost in Shopping Center)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *