Mimpi Bukan Sekedar Khayalan

Mimpi Bukan Sekedar Khayalan

Mimpi Bukan Sekedar Khayalan

Dikirim oleh : Amanda Avilia

Instagram : @mandalie76

Mimpi Bukan Sekedar Khayalan

     “Eh gue pinjem buku pr loe dong!. Gue nggak bisa ngerjainnya, gue nyontek pr matematika loe ya?”, pinta Dendi pada Deana. “Gue nggak ngerti caranya. Loe nyontek punyanya si mata empat aja!. Nanti gue pinjem. Hehehehe”.

     “Loe nggak mau bantuin gue cari contekan malah minjem. Nggak boleh!”, bentaknya bercanda. (Baca juga : Indahnya sebuah Persahabatan)

     “Loe mah jahat Den. Awas loe!. Gue nggak mau ngomong sama loe lagi”, ambek Deana.

     “Ya iya, gitu aja ngambek. Tapi loe kalau ngambek gini makin cantik tau”, rayunya.

     “Gue aduin Bella nanti loe dipecat sebagai pacar loh”, ancam Deana. “Jangan dong. Gue kan cuma becanda. Loe mah mainnya adu-aduan”, kata Dendi ketakutan.

     “Yaudah, buruan gih kerjain prnya, nanti gue pinjem buku loe”, suruh Deana.

     “Ya ya, tapi jangan aduin sama Bella!. Awas loh kalau loe aduin, loe nggak boleh pinjem buku gue!”, ancam Dendi.

     “Ya iya, tenang aja mulut gue nggak lemes kok. Yang penting contekannya!”.

     “Tunggu!. Gue mau ke mata empat dulu”, pamitnya.

     Dendipun mencari Grisa yang biasa dipanggil dengan sebutan “mata empat” atau “cupu”. Tak lama, ia bertemu dengan Grisa di taman sekolah. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghampirinya, “Eh cupu, gue pinjem buku pr loe dong. Gue nggak bisa pr matematika kemarin, gue nyontek pr loe ya?”, katanya.

     Grisa berdiri dari bangku taman dan berkata, “Den, kemarin bu guru kan bilang, kerjain sendiri nggak usah nyontek. Lagian kita tuh diberi tugas bukan untuk nyuruh kita nyontek, tapi nyuruh kita untuk berpikir bagaiamana cara menyelesaikannya tanpa harus menyontek”.

     “Loe kalau nggak mau minjemin gue, nggak usah pakek ceramah. Eh gue tau ya apa yang baik dan nggak. Jadi, loe nggak usah ceramahin gue”, tegas Dendi sambil mendorong Grisa hingga tersungkur ke tanah.

     Dengan sedikit meremehkan, ia terus menghina dan mencaci maki Grisa, “Heh, anak cupu aja mau nyeramahin gue!. Eh, gue ini anak terpopuler dan terkaya di sekolah ini, gue punya segalanya. Jadi, loe jangan berani berani nyeramahin gue ya!. Inget itu!”.

     Grisa hanya bisa menitihkan air mata. Sungguh malang nasibnya, selain tak memiliki teman, ia juga seringkali dihina dan dicaci maki oleh teman-temannya karena penampilannya yang terlihat cupu. (Baca juga cerpen lain pada : Penebang Pohon yang Menjaga Rahasia)

     Seluruh caci dan makian teman-temannya itu hanya bisa ia pendam sendiri, sebenarnya ia ingin menceritakannya pada ayah dan ibunya, namun ia tak mau membuat mereka khawatir pada keadaannya. Dan ia sekarang hanya bisa pasrah dan menelan mentah-mentah seluruh hinaan teman-temannya seorang diri.

     Namun meskipun begitu, ia sama sekali tak pernah memendam rasa dendam pada teman-temannya. Justru ia mendoakan teman-temannya agar mereka segera sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu tak baik.

     Selain membaca buku, Grisa juga mempunya hobby lain yaitu bernyanyi. Ia sangat menyukai lagu-lagu barat terutama lagunya Zayn Malik. Ia sangat suka dengan lagu-lagunya Zayn Malik, bahkan ia sampai hafal lirik dari masing-masing lagu dalam seluruh albumnya Zayn Malik. Jika di rumah, ia sangat piawai menirukan gaya dan suara dari Zayn Malik, namun jika di disekolah, ia hanya diam membisu tanpa berkata sepatah katapun jika tak ada yang bertanya padanya.

     Hingga pada suatu hari ada siswa baru yang masuk ke SMA itu, namanya Lala. Lala adalah sosok anak yang cantik, imut, manis dan gaul. Awalnya Grisa takut saat ingin berkenalan dengan dia, namun Grisa mencoba memberanikan dirinya.

     Ternyata setelah berkenalan, Lala bukan cewek yang sejahat Grisa pikirkan. Lala sangat sopan padanya. Tak jarang juga Lala membelanya saat teman-teman membullynya, “Udah dong temen-temen, jangan bully Grisa terus. Bayangin kalau kalian dibully kayak gini apa kalian nggak marah?. Kalau kalian nggak bubar sekarang, gue aduin kalian ke guru BP”, ancam Lala saat ia menyelamatkan Grisa yang tengah dibully.

     Akhirnya gerombolan murid murid pembully itu bubar dan Lala membantu Grisa yang tersungkur di tanah untuk berdiri. Grisa semakin percaya pada Lala bahwa Lala memang anak yang baik, bukan anak yang hanya pura-pura baik padanya.

     “Loe nggak apa-apa?”, tanya Lala.

     “Saya nggak apa-apa kok. Makasih ya udah nolongin saya”.

     ‘’Santai aja. Gue emang paling nggak suka kalau ada anak yang dibully. Sekolah itu milik setiap murid, jadi murid lain yang kedudukannya lebih tinggi tetep nggak boleh menghina murid lain yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya. Justru dia yang harus melindunginya”, ujar Lala.

     “Oh ya, denger-denger loe juga suka baca novel ya?”, tambah Lala. “Jadi kamu juga suka baca novel?”, tanya kaget Grisa.

     “Ya. Gue suka banget baca novel, apalagi novel ‘Critical Eleven’ itu. Oh ya, selain baca novel gue juga suka nyanyi. Loe juga suka nyanyi nggak?”.

     “Suka, suka banget. Apalagi kalau nyanyi lagunya kak Zayn”, jawabnya dengan excited.

     “Oh gitu, udah pernah duet sama dia?”.

     “Kamu becanda ya?”.

     “Ohh. Loe mungkin belum tau aplikasi karaoke itu ya”, tanya Lala.

     “Aplikasi apa?”, kepo Grisa. “Jadi ada aplikasi yang bisa duetin kita sama penyanyi yang kita mau. Loe bawa hp kan?”, tanya Lala. Grisa menganggukkan kepala. ”Punya paket data internet?”, tanya Lala lagi. Namun sekali lagi, Grisa hanya menganggukkan kepala karena terlalu penasaran.

     “Gue pinjem hp loe. Biar gue share aplikasi itu ke hp loe. Nanti gue ajarin gimana cara makainya”, ujar Lala sambil mengambil handphone dari tangan Grisa.

     “Nah, nih udah”, Lalapun mengajari Grisa cara menggunakan aplikasi itu.

     Setelah Grisa bisa memakai aplikasi itu, setiap hari ia selalu mengunggah hasil rekaman audio karaokenya. Sampai beberapa bulan kemudian, Zayn malik mendengar hasil rekaman audio karaokenya dan mengajaknya duet melewati aplikasi itu.

     Mengetahui hal itu, Grisa langsung jingkrak-jingkrak kegilaan di atas kasurnya. Ia tidak menyangka bahwa idolanya itu akan meluangkan waktu untuk mendengarkan hasil rekaman audio karaokenya. Dengan senang hati, ia langsung mengiyakan ajakan duet itu.

     Zaynpun menjanjikannya minggu depan untuk bisa duet bersamanya. Grisa tak sabar menunggu hari itu tiba. Setiap hari ia selalu berlatih menyanyikan lagu-lagunya Zayn Malik baik dia sedang di sekolah maupun di rumah. Suatu hari saat ia sedang bernyanyi di sekolah, tak sengaja suaranya itu terdengar di kuping Dendi.

     Dendi yang sangat benci padanya, menertawakannya. “Hahahahah. Temen-temen liat nih, ada si mata empat lagi nyanyi!”, serunya.

     Seluruh warga kelaspun seketika merapat di sekitar bangku Grisa. Mereka memandang Grisa dengan pandangan ragu.

     Grisa merasa takut dengan pandangan mereka, ia langsung berlari menuju ke toilet sambil menangis. Lalapun mencoba mengejarnya. Ia membujuk Grisa agar dia membukakan pintu toiletnya. Akhirnya Grisa mendengarkan kata-kata Lala dan mulai membuka pintu toiletnya.

     Tanpa basa basi, Lala segera meraih dan menarik tangannya lalu membawanya ke suatu ruangan kosong di sekolah. Disitu Lala langsung berbicara empat mata dengan Grisa dan menyuruhnya untuk tak minder lagi pada teman-temannya, “Gris, gue tau suara loe tuh aslinya bagus, jadi loe nggak usah malu kalau temen-temen minta loe buat nyanyi”.

     Dengan panjang lebar, ia menjelaskan pada Grisa. Akhirnya Grisapun berjanji tak akan malu dan minder lagi pada teman-temannya. Setelah Grisa bisa menenangkan dirinya, Lala mengajaknya kembali ke kelas.

     Tak lama bu Rita, guru Seni Budaya merekapun datang dengan membawa sebuah pengumuman, “Eh, anak-anak tolong duduk dulu ya!. Bu Rita Cuma sebentar kok, bu Rita cuma ingin memberikan pengumuman”. Seluruh murid kelas Bahasa 10 A pun duduk dalam bangkunya masing-masing dan bersiap untuk mendengarkan pengumuman.

     “Assalamualaikum warohmatullahhi wabarokatuh. Jadi begini anak-anak, satu minggu lagi sekolah kita akan mengadakan pentas seni atau yang biasa disebut ‘pensi’. Saya minta satu perwakilan dari setiap kelas, entah itu berkelompok ataupun perseorangan. Kalian juga bisa menentukan sendiri persembahan apa yang akan kalian tampilkan di acara pensi nanti. Dan kelas yang tidak memberikan perwakilannya akan dikenakan denda. Atas perhatiannya terima kasih. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh”, ujar bu Rita.

     Setelah memberikan pengumuman, bu Rita keluar dari kelas Bahasa 10 A dan langsung menuju ke kelas Bahasa 10 B. Saat mendengarkan pengumuman dari bu Rita, terbesit ide bagus di otak Lala. Ia berniat mendaftarkan Grisa dan dirinya untuk mewakili kelas mereka dalam acara pensi nanti pada ketua kelas.

     Tito, si ketua kelaspun dengan senang hati mendaftarkan mereka pada bu Rita. Nah sekarang, tugas utama Lala adalah membujuk Grisa agar ia mau mengikuti pensi itu. Segala cara ia gunakan untuk membujuk Grisa agar ia bersedia menjadi teman duetnya nanti.

     Akhirnya setelah seluruh otak dan ototnya ia kerahkan untuk membujuk Grisa, Grisapun bersedia untuk menjadi teman duetnya Lala dalam pensi nanti.

     Tak terasa seminggu telah berlalu, dan hari Selasa ini pensi akan diselenggarakan. Lala menghibur Grisa agar ia tak terlalu gugup. Dan sampai akhirnya, bu Rita memanggil nama mereka dan mempersilahkan mereka untuk naik ke panggung. Lala dan Grisa mencoba menampilkan yang terbaik untuk seluruh warga sekolah serta wali murid yang hadir dan menyaksikan pensi itu. Saat Grisa bernyanyi, seluruh murid ternganga mendengar suara merdunya. Mereka tak menyangka bahwa si mata empat yang selama ini mereka kenal, memiliki suara emas.

     Dan Allex, selaku pembina ekstrakurikuler band berhasrat ingin memiliki Grisa untuk menjadi vokalisnya. Setelah Lala dan Grisa turun dari panggung, ia segera menghampiri grisa dan mengajaknya gabung dalam ekstrakurikuler yang dibinanya yaitu band. Lala sangat setuju jika Grisa mengikuti ekstra itu, namun Grisa tak mau gabung dengan ekstra itu jika tanpa Lala. Dengan senang hati, Lala pun bersedia akan gabung juga dengan ekstra itu.

     Karena terlalu sibuk, Grisa hingga melupakan hari bersejarahnya. Saat sampai di rumah, ia membuka handphonenya, ia langsung menerima pesan ajakan duet karaoke dari idolanya. Iapun langsung bersiap-siap agar ia terlihat cantik saat duet dengan Zayn Malik nanti.

     Ia berusaha menampilkan yang terbaik di hadapan idolanya. Dan ia bersyukur, usahanya itu ternyata berbuah kesuksesan. Ia mendapat tiket gratis terbang ke London untuk duet langsung dengan Zayn Malik dalam konsernya satu bulan mendatang. Zayn sengaja mengajak Grisa bergabung dalam konsernya karena ia ingin mengetahui bakat-bakat terpendam para penggemarnya.

     Grisa rasanya tak kuat menahan rasa gembiranya, hingga ia menitihkan air mata terharu. Ia segera memberitahukan kabar ini pada orang tuanya. Orang tuanya sangat bangga padanya dan mendoakannya agar terus mencapai kesuksesan yang ia inginkan.

     Keesokan harinya, karena harus memenuhi panggilan dari Zayn, sang idola, ia pun terbang ke london. Ia diantar oleh orang tuanya saat pergi ke Bandara. Tangis haru nan gembira menyelimuti keberangkatan pesawat Grisa.

     Dan akhirnya impiannya selama ini terwujud juga. Bila kita berusaha dan berdoa, seluruh impian kita tidak hanya sekedar khayalan saja karena Mimpi Bukan Sekedar Khayalan.

SEKIAN

Itulah postingan cerpen yang berjudul Mimpi Bukan Sekedar Khayalan yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerpen tentang Mimpi Bukan Sekedar Khayalan diatas. (Baca juga cerpen lain dalam versi bahasa Inggris pada : The Legend of Shut Eye Island

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

One thought to “Mimpi Bukan Sekedar Khayalan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *