Persami Menyatu Dengan Alam

Persami Menyatu Dengan Alam

Persami Menyatu Dengan Alam

Dikirim oleh : Amanda Avilia

Instagram : @mandalie76

Persami Menyatu Dengan Alam

     Untuk menjalani masa orientasi siswa, bu Kinta selaku pembina kesiswaan SMA 1 Kota selalu mengadakan program perkemahan Sabtu Minggu. Program ini diadakan dengan tujuan agar seluruh murid-muridnya memiliki sifat yang mandiri dan dapat menyatu dengan alam. Kegiatan ini telah berjalan kurang lebih selama 13 tahun. Dan tahun ini akan menjadi tahun yang ke empat belas kalinya acara ini diadakan. (Baca juga : Makna Mendalam Dibalik Persahabatan)

     Santi dan Deka sangat menantikan datangnya acara ini. Mereka membayangkan bagaimana senangnya nanti jika mereka berdua mengikuti penjelajahan menelusuri hutan. Selagi mereka menjelajahi hutan, mereka juga bisa berpacaran sambil belajar mengenal alam.

     Dulu di SMP, mereka berdua memang terkenal sebagai pasangan terhits di kelas, begitupun hingga sekarang. Namun, mereka berdua memiliki kelemahan sama yang sangat membuat teman-teman mereka jengkel. Santi dan Deka memiliki sifat keras kepala. Mereka paling susah untuk diajak diskusi. Setiap larangan maupun nasehat dari teman-teman merekapun tak ada yang mereka mendengarkan.

     Hal ini yang membuat Teana selaku ketua kelas khawatir. Masalahnya perkemahan Sabtu Minggu tahun ini dilaksanakan di lokasi yang sama dengan lokasi Persami tahun lalu, yaitu hutan Gunung Semeru. Hutan yang terkenal angker, hutan yang penuh dengan peraturan dan larangan-larangan yang harus dihindari oleh pengunjung. Teana takut jika nanti Santi dan Deka tak mau mendengarkan setiap larangan-larangan yang diberikan oleh kakak pembina.

      Tak itu saja, hutan itu juga menyimpan banyak kisah misterius yang hingga sekarang tak ada siapapun yang bisa memecahkannya.

     Di hari Selasa pagi Andrew, sang kakak pembina kegiatan kepramukaan datang ke sekolah untuk memberikan beberapa pengumuman mengenai acara Persami yang rencananya akan dilaksanakan minggu depan. Ia menyuruh seluruh ketua kelas 10 yang baru diangkat kemarin untuk menuju lapangan agar ia dapat menyampaikan beberapa pengumuman pada mereka.

     Dengan santai, Teana mendengarkan satu persatu pengumuman yang diberikan Andrew. Ia juga mencatat beberapa hal penting yang menurutnya susah untuk diingat.

     “Tolong sampaikan pada teman-teman kalian ya anak-anak!. Terima kasih, Wassalamaualaikum warahmatullahhi wabarakatuh”, salam Andrew mengakhiri pembicaraan. (Baca juga cerita lain pada : Kesombongan Yang Membawa Petaka)

     Dengan langkah tegasnya, Teana berjalan menuju kelas dan tak sabar lagi ingin segera memberikan pengumuman itu pada teman-temannya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyampaikan semua pengumuman yang telah diberikan oleh Andrew.

     Namun ada satu hal yang membuatnya kesal, Santi dan Deka sama sekali tak memperhatikannya yang telah menjelaskan panjang lebar hingga mulutnya berbusa.

     “Santi!, Deka!”, seru Teana kesal. Mereka berdua memandanginya dengan tatapan tidak suka, “Ada apa sih?. Gangguin orang lagi ngobrol aja!”, kesal Deka.

     “Kalian denger nggak sih tadi gue ngomong apa?”, bentak Teana. “Emangnya loe ngomong apa sih?. Penting buat kita?”, tanya songong Santi. Amarah Teana semakin memuncak, namun ia mencoba menjelaskan dengan lembut.

     Ia menarik nafasnya perlahan, “Ini tuh penting banget buat keselamatan kita saat Persami nanti, kalau kalian nggak mau dengerin ya nggak apa-apa, tapi gue nggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama kalian. Terima kasih”, tutur Teana.

     “Kita tuh udah gede, udah bisa jaga diri sendiri. Udah udah, loe balik ke bangku loe sono!”, usir Deka. Tanpa banyak bicara, Teana meninggalkan mereka berdua dan mencari Andrew di Kantor Guru.

     Meskipun begitu, ia tetap perduli akan keselamatan Santi dan Deka. Ia berharap Andrew belum pulang agar ia bisa mengadukan masalah ini pada Andrew. Sebagai kakak pembina, akhirnya Andrew berani mengambil tanggung jawab atas keselamatan dua remaja sombong itu selama kegiatan Persami diadakan. (Baca juga artikel lain pada : Soal Pilihan Ganda Tentang Himpunan)

     “Ok ok gini aja. Biar Santi dan Deka nanti, kakak aja yang urusin”, ucapnya menengahi permasalahan. “Baik kak, terima kasih atas pengertiannya”, tukas lega Teana.

     Satu minggu kemudian. Dalam Jum’at malam yang sepi tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya, Santi mengemasi seluruh barang-barang keperluannya untuk Persami besok. Ia sudah terbiasa melakukan aktivitasnya sendiri karena dari umurnya sepuluh tahun, mama dan papanya sering berpergian ke luar negri untuk mengurusi bisnis mereka masing-masing.

     Di rumah juga tak tersedia pembantu yang bisa menolongnya saat ia kesusahan. Jadi, ia benar-benar bebas berada di rumah. Baby sister yang dulu mengurusinyapun juga telah dipecat oleh mamanya sejak ia berumur 12 tahun.

     Supaya ia lebih semangat dalam mengemas barang-barangnya, iapun memulai panggilan video dengan Deka. Alhasil, mereka berdua tak jadi mengemas barang karena keasyikan mengobrol. Dan akibatnya mereka ketiduran, hingga pagipun mereka belum juga selesai berkemas. Barang-barang Santipun berteteran dimana-mana, begitupun dengan Deka.

     Saat pulang sekolahpun Santi dan Deka panik karena melihat barang-barang keperluan Persami mereka belum siap. Mereka bingung dan akhirnya memasukkan apa saja yang berada di depan mereka ke dalam ransel masing-masing, tanpa melihat barang apakah itu. Lalu dengan segera, Santi kembali ke sekolah dengan dijemput oleh sang pacar.

     Mobil sedan mewah milik Deka terlihat sudah terparkir tepat di depan rumah Santi. Santi yang baru saja selesai berkemas, dengan cepat mengganti bajunya dan meraih tas ranselnya. Mereka berduapun berangkat berdua dengan tunggangan mewah milik Deka menuju ke sekolah di bawah terik matahari siang yang panas ini.

     Namun apesnya, ternyata di sekolah belum ada seorang muridpun yang datang. Memang seharusnya dalam jadwal yang diberikan Andrew, perjalanan menuju bumi perkemahannya dimulai pukul dua siang, tapi mereka tak mendengarkannya. Daripada nanti mereka pulang dan terlambat, akhirnya merekapun memutuskan untuk menunggu hingga pukul dua siang nanti, meskipun sekarang jam baru menunjukkan pukul sebelas siang.

     Tidur sana, tidur sini, pindah sana, pindah sini membuat mereka jenuh. Udara mobil yang semakin sore semakin panas, semakin membuat mereka frustasi. Sementara sopir Deka yang sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, terlihat nyenyak nyenyak saja saat tidur.

     Dan akhirnya saat jarum jam tepat menandakan pukul setengah satu siang, teman-teman mereka mulai berdatangan. Merekapun bersiap-siap merapikan kembali penampilan mereka yang sempat berantakan karena terlalu lama menunggu. Tak lama. Bus juga datang dan barulah perjalananpun dimulai.

Bersambung

      Itulah postingan cerita yang berjudul Persami Menyatu Dengan Alam yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Cerita Persami Menyatu Dengan Alam diatas merupakan cerita bersambung  yang kelanjutannya dapat dibaca pada judul “Akibat Mengabaikan Peraturan”. Semoga kita dapat terhibur dari cerita tentang Persami Menyatu Dengan Alam diatas. (Baca juga cerita lain dalam versi Bahasa Inggris pada : The Eagle Who Lived Like a Hen)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

One thought to “Persami Menyatu Dengan Alam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *