Selamat Malam New York

Selamat Malam New York

Selamat Malam New York

Selamat Malam New York

Dikirim oleh : Amanda Avilia

Instagram : @mandalie76

Selamat Malam New York

     Setiap bangun tidur, kata pertama yang Ali katakan adalah “Selamat Malam New York”. Dari usianya empat tahun, ia sangat ingin mengunjungi salah satu kota di negeri Paman Sam itu. Namun apalah daya, ibu dan ayahnya hanyalah seorang pemulung yang setiap hari membanting tulang hanya untuk mencari makan. Bahkan terkadang uang untuk makan saja tak cukup, apalagi untuk biaya ke New York.

     Ali mengenal New York dari Dimas, teman sekolahnya dulu saat ia masih tk. Setelah lulus, ia tak pernah bertemu lagi dengan Dimas karena ia harus putus sekolah demi membantu orang tuanya mencari uang. Namun bayangan foto keindahan kota New York yang Dimas tunjukkan saat itu masih melekat dalam otaknya dan semakin hari semakin mengganggu pikirannya. (Baca juga : Ketika Iman Tergadaikan)

     Ibunya Siti Riyanah, sangat bangga sekaligus sedih melihat keinginan anaknya. Ia merasa bersalah karena belum bisa mewujudkan cita-cita anaknya tersebut. Ia hanya dapat menasehati Ali, “Belajar yang rajin ya nak, supaya kamu bisa liburan ke New York!”.

     “Belajar apa?. Belajar mulung?. Belajar bedain sampah basah dan sampah kering?. Bu, Ali pengen sekolah!. Gimana Ali bisa ke New York kalau Ali nggak sekolah?. Ibu nggak mau ya ngeliat Ali sukses?”, bentak Ali.

     Dengan menitihkan air mata, ibunya menyanggah, “Astaghfirullahhaladzim, kamu kok tanya begitu sih nak?. Semua ibu, semua ayah pasti menginginkan anaknya itu sukses. Begitupun dengan ibu, ibu juga ingin kamu nanti nggak seperti ayah dan ibu sekarang, jadi pemulung yang setiap harinya makan seadanya. Kamu kan bisa pinjam buku catatan teman-teman kamu yang sekolah. Nak, sukses itu nggak selalu ditentukan dari berpendidikan atau nggaknya seseorang itu. Jika kamu niat, Insyaallah New York bukan hanya sekedar khayalan saja”.

     “Percuma Ali ngomong sama ibu. Ibu nggak akan ngerti”, Ali pergi dengan menangis, meninggalkan ibunya sendirian.

     Siti Riyanah mencoba menenangkan dirinya seraya berdoa, “Astaghfirullahhaladzim, kuatkan hamba-Mu ini Ya Allah. Maafkan hamba karena hamba belum bisa membahagiakan anak hamba Ya Allah. Berilah hidayah kepada anak hamba, agar ia bisa mengerti keadaan orang tuanya dan berikanlah kepada keluarga hamba rezeki yang berkah untuk menyekolahkan putra tunggal hamba. Amin Amin Ya Robbal Alamin”.

     Siti Riyanah bersama Iswan sang suamipun memulai pekerjaan mereka di hari ini. Mereka berjalan, mencari dan memilah-memilah sampah yang nantinya akan mereka pungut. Dan di tengah-tengah kesibukannya memungut sampah, Siti Riyanah biasanya menyempatkan diri untuk mencari Ali jika putranya tersebut bermain ke rumah tetangga.

     Ia mencari ke rumah Dimas karena Ali biasanya bermain ke rumah Dimas. Namun sampai disana, ia tak melihat seseorangpun di rumah itu. Ia hanya melihat rumah kosong yang pintunya terkunci rapat, “Assalamualaikum. Permisi”, namun tak ada jawaban. Ia pun kembali pulang karena ia pikir di rumah itu tak ada orang.

     Tak sengaja, saat ia hendak melangkah meninggalkan halaman rumah Dimas, datanglah seorang tetangga yang memberitahukan bahwa keluarga Dimas sedang pergi ke Mall.

     “Terus anak saya kemana mpok?”, tanyanya.

     “Anak mbak?. Yang mana ya?. Ali?. Kalau Ali tadi juga ikut”.

     “Ya, Ali. Jadi anak saya juga ikut?”.

     “Ya. Tadi bu Diana (Ibu Dimas) pesen sama saya supaya memberitahu ibunya Ali kalau Ali ikut mereka ke Mall. Jadi mbak ini ibunya Ali?”.

     “Ya, perkenalkan nama saya Siti Riyanah, saya ibunya Ali“.

     Merekapun saling berjabat tangan, “Oh ya, saya Fatimah. Kata bu Diana, Ali itu anak yang rajin loh mbak. Dia nggak pernah macem-macem kalau ke rumah Dimas, palingan dia pinjem buku catatan lalu dia baca. Setelah itu, mereka belajar bareng”.

     “Oh gitu. Saya sangat bersyukur mpok, bisa mempunyai anak seperti Ali, meskipun saya belum bisa menyekolahkannya, tapi ia masih mau belajar dan membantu saya bekerja. Yasudah mpok kalau anak saya ikut Dimas, kalau begitu saya duluan ya mpok. Kasihan suami saya sendirian”, pamitnya. (Baca juga cerpen lain pada : Galau Hati dalam Senyum Mentari)

     “Assalamualaikum”, salamnya.

     “Oh ya. Walaikumsalam”, jawab Fatimah.

     Sampai di rumah gubuknya, suaminya bertanya, “Mana Ali?. Ini kan sudah waktunya dia bantuin kita”.

     “Udahlah pak. Hari ini kita berdua aja yang kerjain pekerjaannya Ali, biar Ali seneng seneng dulu”.

     “Seneng seneng?. Bukannya Ali tiap hari udah bermain, seneng seneng sama temennya. Apa empat jam itu masih kurang untuk waktu bermain Ali?. Dengan kebaikan hati bapak, setiap pagi hingga siang, Ali bapak bolehin main. Namun selebih dari waktu itu, Ali harus membantu kita bekerja bu. Sekarang dimana Ali?”.

     Siti Riyannah mencoba menjawab meskipun ia sedikit ketakutan, “Ali ikut dimas ke Mall pak.”

     “Dengan pakaian seperti itu?. Kok ibu biarin sih?. Tuh anak memang lama-lama ngelunjak. Bukannya bantuin kita, dia malah jalan-jalan ke Mall”.

     “Biarinlah pak. Biarin dia sekali kali bisa tau gimana itu Mall”.

     “Tapi kalau terus dibiarin bu, dia akan terus ngelunjak. Bisa bisanya dia pergi tanpa izin dari kita, nanti kalau terjadi sesuatu siapa juga yang susah?, kita bu”, bentak Iswan.

     Siti Riyanahpun hanya bisa tertunduk, “Ya pak. Maafin ibu, nanti kalau Ali pulang, ibu akan langsung nasehatin dia”.

     Sementara saat perjalanan ke Mall, di mobil Dimas terjadi percakapan antara Diana dan Ali, “Jam segini kamu nggak bantuin ibu dan bapak nak?”, tanya Diana.

     “Ngapain bantuin mereka. Nggak ngehasilin apa-apa, nyekolahin Ali aja nggak bisa tante”.

     “Kok gitu sih nak. Kamu nggak boleh begitu nak, bagaimanapun juga mereka tetep orang tua kamu. Mungkin mereka belum bisa nyekolahin kamu karena memang belum ada biaya, tapi tante yakin kalau suatu hari nanti mereka udah punya uang, hal pertama yang mereka lakuin adalah daftarin kamu sekolah, percaya deh!. Kamu pengen sukses dan bisa berlibur ke New York kan?. Doa orang tua itu manjur loh nak, maka dari itu kamu harus selalu berbakti sama orang tua supaya keinginan kamu itu jadi kenyataan”.

     “Coba bayangin kalau kamu pergi nggak bilang kayak gini, apa ibu kamu nggak cemas nyariin kamu?. Tante yakin dia pasti sangat cemas nyariin kamu, bahkan bisa-bisa ia jatuh sakit karena terlalu mikirin keberadaan kamu. Kamu mau ibu kamu sakit gara-gara kamu?. Ali, tante juga seorang ibu. Tante sangat ngerti gimana rasanya kalau orang tua belum bisa nyekolahin anaknya, namun kamu juga nggak boleh nyalahin mereka karena itu bukan sepenuhnya salah mereka. Tante harap kamu bisa paham sama apa yang tante bilang?, besok-besok jangan ulangin lagi ya!”.

     “Baik tante”, jawab singkat Ali.

     Dalam hati kecil Diana tersemat rasa iba, “Kasihan Ali, dia memang anak yang rajin, tapi sayang ia tak memiliki pendidikan yang mumpuni”.

     Ternya dibalik jawaban singkat Ali  tadi, ia tengah memendam rasa penyesalan. Ia sadar bahwa perekonomian keluarganya memang tak kuasa jika harus membiayainya sekolah. Ia merasa bersalah telah membentak ibunya tadi pagi.

     Karena rasa bersalahnya, ia hanya bisa terduduk diam dan sesekali menitihkan air mata. Begitupun saat sampai di Mall, pandangannya kosong, wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan. Diana sebagai seorang ibu mencoba mengerti perasaan Ali, “Nak. Kamu kok diem aja?. Ini sudah sampai di Mall loh. Disini kamu bisa main-main sama Dimas, tapi sebelum itu kamu harus ganti baju dulu. Nanti tante beliin baju baru ya. Jadi, sekarang mari ikut tante cari baju buat kamu!”.

     Namun, setelah mendapat baju barupun muka Ali tetap tidak berubah, wajahnya masih menunjukkan wajah kesedihan. Diana bingung, harus berbuat apalagi. Di tengah kebingungannya, ia baru mengingat sesuatu, “Ohhh aku tau. Mungkin Ali mikirin kata-kataku tadi dan sekarang dia pasti nyesel udah ngacuhin orang tuanya gitu aja”.

     Ia pun mencoba menghibur Ali dengan membelikan baju baru untuk orang tua Ali, “Ini. Kasih ke mereka sebagai tanda permintaan maaf kamu. Tante tau, kamu itu anak yang baik, jadi tante yakin kamu pasti nggak akan ngulangin perbuatan kayak tadi lagi, ya kan?. Ini, kasih sama orang tua kamu”.

     Seketika wajah Ali menjadi sumringah, ia mengucapkan terima kasih pada Diana, “Aduh tante. Tante kok bisa tau perasaan Ali sih tan?. Tapi sebelumnya maaf nih tan, ini ngerepotan tante atau nggak?. Sebenernya tante nggak usah sampai segitunya sama Ali, lagian Ali kan bukan aiapa-siapanya tante”.

     “Nggak apa-apa Al. Kita sebagai manusia kan harus saling memberi tak pandang bulu, tak peduli itu saudara kita atau bukan. Lagian tante nggak ngerasa direpotin kok”.

     “Ya, Al. Kita malah seneng kalau ngeliat kamu seneng”, tambah Dimas.

     “Makasih ya, Dim. Kamu memang sahabat sejatiku”, ujar Ali sambil memeluk Dimas.

     Saat perjalanan ke rumah, senyuman manisnya tak pernah pudar. Ia tak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan orang tuanya dan meminta maaf pada mereka.

     Sesampainya di rumah, ia sengaja menyembunyikan hadiah yang telah ia persiapkan di balik badannya. Saat ia masuk ke rumahnya, ia langsung memberikan hadiah itu pada ayah dan ibunya sembari meminta maaf, “Bu, maafkan Ali. Karena keinginan mustahil Ali, Ali sampai berani menentang ibu. Ali nggak bermaksud membuat ibu sedih. Ali janji akan ngelupain keinginan Ali itu bu, demi ibu. Ali nggak berani nentang ibu lagi, Ali takut dosa bu”.

     “Nak, ibu nggak nyuruh kamu untuk ngelupain keinginan kamu itu. Ibu malah seneng kalau anak ibu ini memiliki keinginan seperti itu. Ibu hanya ingin kamu selalu rajin belajar, supaya keinginan kamu itu bisa terpenuhi. Maafin ibu dan bapak karena belum bisa memberikan kamu pendidikan yang layak seperti anak-anak lainnya”, ujar Siti Riyanah.

     “Ya bu, itu memang sudah takdir Ali. Tapi Ali nggak pernah marah kok sama ibu. Ali udah maafin ibu, ibu maafin Ali juga yah!. Sama bapak juga, maafin Ali juga ya pak!. Hari ini Ali nggak bantuin bapak dan ibu kerja. Ali malah ikut Dimas jalan-jalan ke Mall. Maafin Ali ya bu, pak!”.

     “Ya, nak. Bapak juga nggak bermaksud keras sama kamu, bapak tegas sama kamu selama ini itu supaya kamu bisa menjadi anak yang disiplin dan menghargai waktu. Orang sukses itu adalah orang yang bisa menghargai waktu”.

     Ali menitihkan air mata, ia bangun dari duduknya dan langsung memeluk ibu bapaknya. Ia bangga bisa mempunyai orag tua seperti mereka. Dan ia berjanji di dalam relung hatinya, bahwa tidak akan melawan setiap perintah mereka lagi. (Baca juga cerpen lain dalam versi bahasa Inggris pada : The Wise and Smart King)

     Tangis sesal Ali membuat hati Diana tergugah. Setelah ia mendengar pembicaran mereka dari luar, tanpa pikir panjang Ia pun masuk ke dalam gubuk dan berseru, “Ali akan sekolah”.

     Ia mendekati Ali dan memegang pundaknya, “Ali. Kamu anak yang rajin. Makasih selama ini kamu udah nemenin Dimas belajar. Nah sebagai balasannya, tante pengen kamu bisa sekolah, maka dari itu tante akan urus seluruh biaya sekolah kamu hingga lulus SMA nanti. Kamu mau sekolah kan?”.

     Ali terkejut, tidak menyangka, sekaligus senang. Senyum lebarnya seketika tergambar dari kedua ujung bibir tipisnya, hiasan lesung pipinya semakin membuat senyumnya terlihat manis. Ia sangat gembira, hingga ia tak kuasa membendung air mata harunya, “Tante beneran?. Nggak bohong?. Tante nggak lagi becanda kan?”, ujar tak percayanya.

     Namun entah kenapa tiba-tiba senyumnya mulai pudar, “Tapi tan, Ali udah berhutang banyak sama tante, Ali takut kalau nanti Ali nggak bisa balikin uang tante. Nggak usah deh tan, memang sudah takdir Ali untuk jadi pemulung, tante nggak usah repot-repot nyekolahin Ali”.

     “Tante nggak minta ganti. Tante nggak minta uang. Tante nggak minta apa-apa dari kamu, tante ngelakuin ini karena semata-mata hanya mengharap Ridhla Allah dan tante cuma minta tiga dari kamu”.

     “Apa itu tan?”.

     “Berusaha, berdoa dan banggakan orang tua kamu selagi mereka ada. Kamu bisa janji sama tante?”.

     “Ali janji tan”.

     Siti Riyanah hanya bisa terdiam haru melihat anaknya dapat kembali menempuh pendidikan seperti dulu.

     Bahkan hanya untuk berterima kasih, ia hingga rela menunduk di hadapan Diana sambil menangis, “Terima kasih banyak mbak. Bagaimana saya bisa membalas kebaikan mbak pada anak saya. Saya hanya seorang pemulung mbak”.

     “Udah udah mbak. Sekarang bangun dulu. Gini gini, saya nggak minta balasan, saya ngelakuin ini hanya karena Allah SWT bukan karena apa-apa. Jadi, saya nggak mengharap apa-apa dari mbak dan Ali. Saya hanya ingin melihat Ali bisa sekolah seperti anak-anak lain, hanya itu mbak. Karena saya melihat Ali itu anaknya rajin dan pintar, sayang kalau ilmunya nggak digali”.

     “Ya mbak, meskipun begitu kami tetap merasa nggak enak sama mbak, karena kita bukan siapa-siapanya mbak, tapi mbak rela bantuin kita sampai segitunya”, kata Iswan.

     “Bapak jangan begitu, anggap saja saya ini adik bapak sendiri. Jadi bapak nggak usah ngerasa nggak enak sama saya. Kalau ada apa-apa, bapak bisa telpon saya dan Insyaallah kalau saya bisa bantu, saya akan bantu. Yasudah kalau begitu, saya harus pergi dulu, masih ada urusan lain yang harus saya selesaikan. Assalamualaikum”.

     “Walaikumsalam. Hati-hati ya mbak”, teriak Siti Riyanah.

     Keesokan harinya, Diana mendaftarkan Ali di salah satu sekolah dasar daerah Tanah Abang, Jakarta. Ali terlihat sangat bersemangat dan tidak sabar ingin cepat-cepat masuk sekolah. Hari Selasapun menjadi hari pertama yang menyaksikannya duduk di bangku sekolah dasar untuk pertama kalinya.

     Ia berusaha selalu mengikuti pelajaran dengan tertib dan disiplin di setiap harinya, baik saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar, menengah pertama maupun menengah atas. Ia juga selalu membantu teman-temannya saat kesulitan mengerjakan pekerjaan rumah, terutama Dimas.

     Hingga akhirnya ia meraih gelar siswa paling teladan pada tahun 2014 , begitupun dengan Dimas. Dimas mendapatkan gelar itu pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2015. Dan pada tahun 2016, mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Prestasi kedua sahabat ini mebuat orang tua mereka bangga.

     Namun kebahagiaan Ali tak berhenti sampai situ saja. Andi, Kepala SMA itu telah menyiapkan kejutan spesial yang tak  terduga untuk Ali. Disaat acara wisuda usai, ia mendekati Ali dan berkata, “Nak, kamu kan pernah bilang ke bapak kalau obsesi utama kamu itu pengen liburan ke New York. Nah, sekarang bapak punya hadiah yang berhubungan dengan kota New York untuk kamu”.

     Muka penasaran Ali membuat Andi tersenyum, “Kamu penasaran ya?”, tanya gurau Andi.

     “Bapak becanda sama saya ya?”.

     “Nggak nggak, sekarang serius”. Andi menghela nafasnya, “Jadi gini, sebenernya bapak tuh udah daftarin kamu beasiswa kuliah di New York. Sekarang masalahnya, kamu mau nggak belajar di universitas itu?”.

     “Bapak nggak lagi becanda kan?. Bapak serius kan?”, tanya tak percaya Ali.

     Andi hanya menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa ia sedang tidak dalam bercanda.

     “Ya pasti mau lah pak. Terima kasih banyak pak, bapak itu kepala sekolah paling pengertian yang pernah Ali kenal. Sekali lagi terima kasih pak. Gimana caranya saya bisa balas jasa bapak selama ini”.

     “Balas jasa bapak dengan membahagiakan orang tua kamu. Guru akan bahagia jika muridnya sukses”, jawab singkat Andi.

     Merekapun berpelukan di tengah-tengah lapangan yang dikelilingi oleh murid-murid kelas 12 yang tengah berbahagia menyambut kelulusan mereka.

     Satu bulan kemudian, Siti Riyanah dan Iswan dengan haru mengantarkan Ali ke Bandara. Namun sebelum mereka berpisah, Ali berpamitan dahulu kepada kedua orang tuanya. Tangis haru menyelimuti keberangkatan Ali.

     Dan setelah melewati perjalanan panjang yang sangat melelahkan akhirnya ia sampai di New York pada pukul sembilan malam waktu setempat. Dan kata pertama yang ia ucapkan saat keluar dari pesawat adalah “Selamat Malam New York”.

SELESAI

       Itulah postingan cerpen yang berjudul Selamat Malam New York yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerpen tentang Selamat Malam New York diatas. (Baca juga artikel lain pada : Soal USBN Seni Budaya SMP Bagian 1)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected] 

One thought to “Selamat Malam New York”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *