Situasi yang Membelenggu Asa

Situasi yang Membelenggu Asa

Situasi yang Membelenggu Asa
Situasi yang Membelenggu Asa

Situasi yang Membelenggu Asa

Dikirim oleh : Natasya Ayu S.

Instagram : @_natasya13_

       Anak yang terlahir dari keluarga harmonis dan sederhana. Namanya Firjin. Dia adalah anak yang pandai dan baik. Firjin ingin sekali menjadi polisi. Karena kedua orangtuanya sangat menginginkan anaknya untuk menjadi orang yang sukses dan hebat. Ayahnya selalu bekerja keras demi memenuhi segala apa yang dibutuhkan keluarganya. Apalagi untuk keperluan sekolah Firjin. Memang Firjin ingin menggapai cita – citanya agar bisa membahagiakan kedua orangtuanya. (Baca juga : Sandungan Kerikil Dalam Keluarga)

       Pagi itu Firjin seperti biasa sekolah dengan jalan kaki karena dia tidak memiliki sepeda dan ayahnya sedang bekerja di suatu daerah dan tidak pulang selama 2 hari. Firjin sangat bersemangat untuk bersekolah meskipun matahari membuat dia meneteskan keringat. Dia tidak pernah malu untuk berjalan kaki ke sekolah karena tujuannya hanya untuk belajar supaya cita – citanya tercapai.

       Setelah sampai di sekolah dia menemui teman – temannya untuk menanyakan kepada mereka apa yang dia tidak pahami pada pelajaran kemarin. Selain menanyakan kepada temannya dia jiga menanyakan kepada bapak atau ibu guru saat jam pelajaran nanti. Bel telah berbunyi, waktunya Firjin dan teman – temannya masuk kelas untuk menerima pelajaran. Memang Firjin terkenal sebagai anak yang pandai di sekolah.

       Sekolah pun telah usai. Waktunya pulang ke rumah. Firjin pulang dengan hati gembira karena dia ingin menceritakan apa yang dilakukan di sekolah kepada ibunya. Memang Firjin selalu menceritakan apa yang telah dilakukannya di sekolah kepada ibunya. Firjin melewati setapak jalan dan melawan panasnya matahari karena jarak rumah dengan sekolahnya lumayan jauh sekitar 1 km. 

       Saat memasuki belolan di rumahnya dia melihat banyak orang di rumahnya. Dia berfikir bahwa mungkin ada kerja bakti di sekitar daerah rumahnya. Sesampai di depan rumahnya, semua orang melihat Firjin, salah satu orang menghampiri Firjin dengan wajah sedih dan matanya berkaca – kaca. Firjin bertanya, “ada apa ini?”. Orang itu menjawab “ayahmu sudah meninggal dunia, kamu harus sabar ya nak.” Firjin tidak bisa mengatakan apa – apa dan dia langsung masuk ke dalam dengan meneteskan air mata. Seketika itu Firjin lanhsung memeluk ibunya dan dia berkata “ayah sudah tiada bu? Ayah meninggalkan kita bu.” Iya nak, kita harus sabar.” Jawab ibu dengan meneteskan air mata. (Baca juga artikel lain pada : RPP-Rencana Pelaksanaan Puasa)

       Firjin sangat sedih sekali dengan meninggalnya ayahnya. Dia sangat merasa kehilangan sosok seorang ayah karena Firjin masih belum cukup umur untul ditinggal ayahnya. Firjin juga masih belum bisa membahagiakan ayahnya karena cita – cita Firjin belum tercapai dan dia masih bersekolah. Hari – hari telah berlalu saat memninggalnya ayah Firjin, rumah Firjin berasa sepi karena ada salah satu orang sudah tiada dan tidak akan pernah kembali.

       Sejak kematian ayah Firjin, kondisi perekonomian keluarganya tidak mencukupi karena tidak ada lagi yang bekerja. Tetapi sejak saat itu ibunya berusaha untuk bekerja yaitu berjualan nasi goreng di pinggir jalan atau berkeliling di sekitar desa tempat tinggalnya. Ibunya ingin Firjin tetap melanjutkan sekolah agar  cita – citanya tercapai. Penghasipan dari penjualan nasi goreng itupun tidak mencukupi kebutuhan keluarganya karena sudah jarang orang membeli nasi goreng ibu Firjin. Tetapi ibunya masih menyuruh Firjin untuk bersekolah.

       Pagi itu Firjin ke sekolah, dia tidak ingin mengecewakan ibunya karena ibunya merupalan satu – satunya keluarga yang ia miliki. Saat waktu istirahat Firjin dipanggil ke kantut guru. Dia disuruh segera melunasi semua biaya sekolah sekitar Rp 750.000 dan harus lunas lusa. Firjin pulang dengan wajah sedih karena dia berfikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu. Kemudian dia menceritakan hal tersebut kepada ibunya. Ibunya hanya diam tidak mengatakan sepatah kata apapun. 

       Hari – hari telah berlalu, serasa cepat sekali batin Firjin. Pagi itu Firjin berangkat ke sekolah dengan wajah murung. Tidak seperti biasanya Firjin selalu bersemangat untuk bersekolah. Firjin memikirkan tentang biaya sekolahnya karena hari ini Firjin belum bisa membayar. Saat sampai di sekolah Firjin langsung menuju ke kelas. Dia tidak bersemangat untuk bersekolah. Saat jam pelajaran dimulai, firjin dipanggil Bu.Sarah yaitu kepala sekolah di sekolah Firjin. (Baca juga artikel lain pada : Penyesalan Setelah Kepergian Ibu)

       Firjin menduduki kursi yang sudah disediakan oleh Bu Sarah. “Apakah kamu sudah bisa membayar biaya sekolah?” Tanya Bu Sarah. “Belum bu, ibu saya belum memiliki uang”, jawab Firjin dengan wajah menunduk. “Kapan kamu bisa membayar?” Kata Bu Sarah. Firjin hanya diam. “Jika kamu tidak bisa membayar, kami terpaksa mengeluarkan kamu dari sekolah ini”, kata Bu Sarah. Firjin terkejut dan hanya bisa berdo’a kepada Tuhan agar tidak dikeluarkan dari sekolah. Kemudian Firjin disuruh kembalu ke kelas.

       Saat pulang sekolah Firjin menceritakan kepada ibunya. Ibunya kaget dan tidak bisa berbuat apa – apa. Ibu Firjon menangis dan meminta maaf kepada Firjin bahwa ibunya tidak bisa menyekolahkan Firjin dengan baik. Firjin berkata “tidak apa – apa bu”,dengan mata berkaca – kaca. Akhirnya, keesokan harinya Firjin tidak lagi bersekolah.

Akhir cerita Situasi yang Membelenggu Asa

       Itulah postingan cerpen yang berjudul Situasi yang Membelenggu Asa yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerpen tentang Situasi yang Membelenggu Asa diatas. (Baca juga artikel lain pada : UAS PKn Kelas 11 Semester 2)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *