Surat Terakhir Untuk Sarla

Surat Terakhir Untuk Sarla

Surat Terakhir Untuk Sarla

 Dikirim oleh : Sintya Agustin Setiawan

Instagram : @sintya_agustina            

Surat Terakhir Untuk Sarla

      Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang gadis cantik dan lagu bernama Sarla. Dia tinggal bersama neneknya, karena orang tuanya ke kota untuk kerja. Dia adalah gadis yang pendiam dan pandai, dia tidak pernah mengenal apa itu cinta. Dan ketika dia menginjak usia remaja, dia baru mengenal apa itu cinta. Dan di situlah kisah barunya dimulai. (Baca juga : Ku Lewati Rembulan Demi Matahari)

      Setelah Sarla lulus, dia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP. Di sekolah tersebut, dia mencalonkan diri sebagai anggota pengurus OSIS. Dan ketika tiba pengumuman, ahirnya Sarla terpilih menjadi anggota OSIS.

      Setelah menjadi pengurus OSIS, kegiatan Sarla menjadi sangat padat, namun meskipun begitu, setiap hari Sarla selalu menyempatkan diri untuk belajar. Tidak heran, dia menjadi murid terpandai di kelas.

      Suatu hari, ketika menjelang 17 agustus, pengurus OSIS mendapat tugas untuk melatih petugas upacara. Pada waktu itu Sarla mendapat bagian untuk melatih pembawa pancasila. Dia juga di bantu oleh temannya Roy dan Rita.

      Kebetulan pembawa buku pancasila tersebut adalah siswa kelas 8 laki laki yang bernama Husda. Latihan upacara tersebut berlangsung selama 3 minggu setiap hari Kamis, Jum’at, dan Sabtu saat siang setelah pulang sekolah.

      Suatu hari, Rita dan Roy mendapat tugas mendadak dari kepala sekolah, oleh karena itu, Sarla terpaksa harus melatih Husda sendirian. Bel pulang sekolah berbunyi, pengurus OSIS bergegas mempersiapkan peralatan yang digunakan untuk upacara.

      Semuanya terlihat gembira dan berseri, namun tidak dengan Sarla. Wajahnya terlihat sangat pucat dan lesu. Dia sering sekali pusing apabila dia kelelahan, sebelumnya hal ini sudah diketahui oleh temannya. Temannya menyuruhnya untuk pulang saja, namun Sarla menolak karena ia ingin tetap melatih upacara karena sudah kewajibannya. Ahirnya Sarla tetap berada di sekolah.

      Latihan pun dimulai, Sarla menunggu Husda datang, dia sepertinya datang terlambat. Setelah beberapa menit kemudian, Husda datang dengan membawa air minum untuk pelatihnya itu. Dia tahu bahwa Sarla sedang sakit, oleh karena itu dia membawakan minum. Setelah itu mereka pun berlatih upacara.

      Teriknya matahari dan keringat yang bercucuran, membuat tubuh Sarla semakin lemas, namun dia masih tetap ingin menjalankan kewajibannya. Ketika ia ingin menjelaskan, dia menyuruh Husda untuk duduk dan memperhatikannya. Namun sayang, badan Sarla sudah terlalu lemah, dia sudah tidak kuat lagi. (Baca juga cerita lain pada : Derita Dibalik Cinta Yang Hilang)

      Akhirnya dia jatuh pingsan dengan mengeluarkan darah dari hidungnya. Sarla segera dibawa ke rumah sakit. Setelah sadar, Sarla diperbolehkan untuk pulang, supaya dia beristirahat.

        Keesokan harinya, disekolah Sarla menemui ketua OSISnya untuk meminta izin tidak mengikuti kegiatan OSIS untuk sementara karena anjuran dari dokter. Sarla juga menemui Husda, untuk meminta maaf karena dia sudah tidak bisa melatih lagi. “ tidak apa apa, aku mengerti “, jawab Husda. “terima kasih kak”,sahut Sarla. Setalah pulang seolah, Sarla langsung pulang, karena dia izin untuk tidak mengikuti kegiata OSIS selama beberapa hari.

      Anggota OSIS pun berkumpul, latihan dimulai. Husda yang berlatih sendirian, tidak pantang menyerah, karena dia tidak ingin membuat Sarla kecewa.

      Tiga minggu kemudian, upacara tersebut berlangsung. Upacara berlangsung dengan hikmat, Husda si pembawa pancasila juga tidak kalah dengan petugas lainnya. Dia menunjukkan hasil kerja kerasnya selama beberapa minngu latihan. Dan hasilnya pun juga memuaskan. Namun sayang, Sarla tidak bisa menyasikkan upacara tersebut karena dia sedang berada di rumah sakit  untuk menjalani pengobatan. Meskibun begitu, Husda tidak kecewa karena dia mengerti keadaan Sarla.

      Beberapa hari kemudian setelah upacara tersebut, Sarla dan Husda tidak pernah bertemu. Dan hal ini tanpa sadar telah membuat Husda merindukan Sarla dan pelan pelan mulai jatuh cinta pada Sarla.

      Suatu hari, wali kelas Husda sedang berulang tahu dan membuat pesta dengan mengundang murid kelasnya dan juga untuk pengurus OSIS. Informasi ini ahirnya sampai ke telinga Husda. Setelah mendapat informasi ini, Husda berencana membuat surat ungkapan isi hatinya kepada Sarla, karena dia tahu Sarla juga pasti akan datang ke pesta itu.

      Setelah lama menunggu, ahirnya pesta itu pun datang. Sarla datang bersama teman OSISnya dengan memakai gaun putih. Sebelum pesta dimulai, Husda sudah berbicara dengan rekan OSIS Sarla, bahwa dia ingin bertemu dengan Sarla.

      Setelah Sarla datang, Husda langsung menemuinya dan berbicara dengannya. Namun ketika dia hendak memberikan surat itu, sebuah tragedi terjadi. Sebelum surat itu jatuh ke tangan Sarla, hal itu sudah didahului oleh tetesan darah dari hidung Sarla dan membuat noda pada tangannya. Wajahnya seketika menjadi pucat. Ahirnya Sarla jatuh pingsan, dan setelah itu dia segera dibawa ke rumah sakit. Namun sayang, seorang gadis cantik dan pendiam itu harus tutup usia di masa mudanya.

      Derasnya air mata yang mengalir dari mata Husda, tidak dapat mengembalikan kehidupan Sarla. Kini tinggalah kenangan indah yang tersisa. Husda tidak menyangka hal tersebut akan terjadi. Mau bagaimana lagi, kepergian Sarla tidak dapat terelakkan. Namun meskipun begitu, Husda tidak kehilangan harapan. Karena dia tahu bahwa kini Sarla telah menjadi bintang yang indah menghiasi langit malam.

      Dan pada akhirnya, Husda mengungkapkan semua isi dari surat tersebut melalui lisannya dengan memandang langit malam bertabur bintang dan berharap semoga Sarla mendengarkannya disana.

The end of Surat Terakhir Untuk Sarla

      Itulah postingan cerpen tentang Surat Terakhir Untuk Sarla yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat terhibur oleh cerpen tentang Surat Terakhir Untuk Sarla diatas. (Baca juga cerpen lain dalam versi Bahasa Inggris pada : The Legend of Sarangan Lake)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

2 thoughts to “Surat Terakhir Untuk Sarla”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *