Terkesan Namun Menyakitkan

Terkesan Namun Menyakitkan

Terkesan Namun Menyakitkan

Terkesan Namun Menyakitkan

Dikirim Oleh : Nur Laili Indah S.

e-mail : [email protected]

Terkesan Namun Menyakitkan

      Semua seakan tampak kacau bagai guci indah yang jatuh porak poranda, hancur bagai kaca pecah dan tidak akan kembali menjadi sebuah kaca. Bagaimana tidak saat yang aku nantikan kini lenyap. Saat dimana semua impianku telah hancur begitu saja. Perayaan akhir sekolah yang harusnya menjadi kesan terakhir dimasa mudah ku kini menjadi kesan terburuk yang akan selalu ada di memori ku. Kenapa hanya aku yang mengalaminya? (Baca juga : Si Kakek Dan Burung Beo)

      Pagi itu, dua hari sebelum hari wisuda di sekolahku yang konon salah satu SMK terbaik itu berlangsung, aku dengan penuh bersemangat menyambut hari itu. Acara dimana semua siswa merayakan status tamat nya pendidikan berseragam putih abu-abu. Bagaimana tidak, selama tiga tahun lamanya setiap pagi langakah kakiku berjalan dengan rute yang sama, dengan segebok tugas yang setiap hari ku terima dan dengan candaan-candaan yang di bilang bukan hanya sekedar konyol. Hingga kini tiba waktunya aku meneta hidupku yang nyata bukan hanya sekedar menghafal rumus matematika maupun menghafal panjangnya sejarah dunia.

      Teriakan maut terlontar dari bibir manis teman-temanku bagai deraian petir yang tak kunjung berlalu. Ya begitulah tingkah gadis muda dengan seluruh imajinasinya mempersiapkan perhelatan akbar tersebut. Akupun tak mau kalah dengan mereka, demi perhelatan itu aku menabung satu semester lamanya, menahan godaan setan semangkuk mie ayam, dan dentungan gendang besar di perutku. Ketika melihat kebaya modern di butik milik tanteku, sejenak terlintas dalam pikiranku di perhelatan itu aku akan menjadi ratu dalam satu hari, dengan rambut terurai dan goresan make up menghias raut wajahku, akan menambah elegan penampilanku. Serta Rey yang terkesan dengan penampilanku bak puteri salju. (Baca juga artikel lain pada : Murid Mengendarai Sepeda dan Guru)

      Petang ini aku akan mengambil kebaya impianku ditemani sahabatku yang selalu ada disampingku. Namun akibat munculnya acara arisan dadakan ibu-ibu sosialita di rumahku, aku di sibukan dengan beribu-ribu tugas yang diberikan ibuku.

      Ketika sedang mencuci piring yang bersihnya minta ampun serta dengan bau bak bunga mawar tersiram kuah gulai, telfon ku berdering sekeras bel sekolah. “Eh ndah, lo lama banget sih, jadi kagak ambil bajunya, gue mau ada acara nih” ucapan yang aku terima saat mengangkat telfon ku. “Eh anis maaf banget ya, nyokab gue lagi ada arisan nih, gue  disuruh bantu deh!” dengan sangat kecewa aku menjawab pertanyaan Anis sahabatku. Gak apa-apa deh bajunya aku ambil setelah selesai semua, gumamku dalam hati serambi menghibur diri.

      Hingga akhirnya tugas sepanjang antrian sembako itu pun selesai. Aku segera membersihkan badan ku lalu bergegas pergi, namun entah kenapa kondisi dan situasi seakan tidak mendukung apa yang aku pikirkan. Huja. turun begitu lebat dan kilatan petir yang mirip flash kamera, hingga ibuku melarang aku pergi. “Tidak apa-apa lagi ibu, habis ini juga reda” bantahku sambil memakai mantel. Aku berangkat sebatang kara menuju butik tanteku ditemani hujan yang mengguyur badanku dan membasahi kendaraan roda dua kesayanganku. Aku pun melaju dengan kecepatan sedang, entah kenapa kepalaku mulai menunjukkan protesnya akibat aktivitas yang terlalu banyak akhir-akhir ini. Pandangan ku mulai kabur dan tubuhku mulai kehilangan keseimbangan. (Baca juga artikel lain pada : Soal tentang Operasi Hitung Aljabar)

      Beragam bunga tampak terlihat di depanku dengan hiasan lampu yang menambah kesan mewahnya gedung yang ku masuki. Semua mata memandang ku dengan kesan takjub dan tak akan pernah berpaling walaupun dalam sedetik. Perhelatan akbar wisuda ku berjalan sesuai yang aku dambakan. Sampai teriakan kencang terdengar di telingaku “Indah sadar nak ini ibu, nak sadar indah!!”. Akupun tercengang merasakan apa yang aku alami satu hari yang lalu. Iya kendaraan yang aku naiki menabrak sebuah truk di jalur berlawanan.

      Aku langsung tersadar bahwa perhelatan wisuda telah selesai dua jam yang lalu. Kata ibuku aku telah mengalami masa koma di rumah sakit sejak satu hari yang lalu. Betapa kecewanya dalam pupuk hatiku, menyesali semua yang telah aku perbuat. Namun nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi? Ingin rasanya mengendalikan takdir sesuai yang aku inginkan. Tapi buat apa? Tuhan pasti membuat jalan yang terbaik bagi kita. Setelah aku menyadari semua itu, semakin aku termotivasi untuk hidup yang lebih baik dimasa depan yang menunggu.

      Itulah postingan cerpen yang berjudul Terkesan Namun Menyakitkan yang telah dikirim oleh salah seorang sahabat kita. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerpen tentang Terkesan Namun Menyakitkan diatas. (Baca juga cerita lain dalam versi Bahasa Inggris pada : Mysterious Illness King Harun Al-Rasyid)

Kirimkan tulisan kalian yang lain melalui e-mail ke: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *